Kehilangan Abadi

Jangan menggenggam dengan terlalu.
Karena kehilangan adalah abadi.
Akan selalu datang dalam situasi yang berbeda.
Tak usah merasa memiliki teramat dalam.
Semua ada masanya.

Ketika ada, terima dengan gembira, sayangi sebanyak kau bisa, buatlah setiap momen berharga.

Dan bila tiba waktunya ditinggalkan, kau punya banyak gambar, rasa untuk dikenang.

Kehilangan sesungguhnya hanya sebentar, yakinlah akan digantikan dengan yang lebih baik lagi.

Kehilangan adalah proses belajar untuk mengikhlaskan.

~aku, yang hari ini harus kehilangan untuk kesekian.

Ubud, 28 Juli 2020 || 12.17

Melihat Kematianku Sendiri

Melihat Kematianku Sendiri

Dulu, aku selalu meyakini bahwa mimpi hanyalah kembang tidur, tanpa aku tahu apa maksud “kembang tidur” itu.
Semakin bertambah usia dan berbagai pengalaman, kemudian aku paham bahwa terkadang mimpi adalah penanda dari suatu peristiwa dalam hidup kita.
Aku bahkan mengalami mimpi menahun, yang sering kali datang setiap perasaan dan diri sedang terpuruk.

Beberapa hari lalu, aku bermimpi lagi. Kali ini beda, agak mengejutkan. Aku melihat kematianku sendiri.
Begini situasi di mimpiku :
Kami sedang merayakan syukuran atas rumah baru kami di daerah Canggu, Bali. Sebuah rumah modern style minimalis berhadapan dengan pantai. Bercat abu-abu putih dengan banyak pohon-pohon rimbun di halamannya. Yang menyenangkan adalah syukuran ini sekalian dengan perayaan ulang tahunku di akhir April, acara itu sepertinya beberapa hari di awal Mei.
Gembira, ada beberapa kawan sekelas SMA dia yang datang dan kawan-kawan grup SMP ku juga, kami berbaur, bercanda. Ketika aku sedang menata hidangan, dia datang menghampiri ku, memeluk dari belakang, :
“Suka pestanya?”
“Suka sekali, makasih banyak ya, semuanya” kata ku.
” Eh ini pegang ya dompetku, siapa tahu nanti ada yang perlu dibeli nanti, ” dia berucap sambil mengangsurkan dompet kulit coklat ke tanganku.

Kemudian kami bergabung dengan teman-teman kami kembali, ahh sungguh menyenangkan hari itu.
Tiba-tiba suasana gembira terhenti, ada teriakan dari salah satu staff rumah :
“Pak, Pak……. Ibu …sudah ga ada”

Situasi chaos, kulihat teman-temanku dan teman-temannya berlarian menuju satu ruangan, aku pun segera kesana, dan aku ingin teriak ketika yang kulihat adalah : aku yang terbaring di lantai kemudian dia menggendongku, memelukku menciumi seluruh wajahku sambil terisak :
“Na, Na bangun,, bangun,, jangan pergi, jangan gini please”

Dan aku, tak pernah bisa menyentuhnya, ingin kukatakan aku tak mengapa tapi tak ada suara ku yang terucap.
Adalah menyesakkan melihat orang-orang menangisi kita, hei hei,, aku disini, berulang kali aku melambai, tak ada yang melihatku.
Yang masih kugenggam adalah .. dompet kulit coklat, kubuka isinya, ada beberapa kartu ATM dan kartu kredit dan identitas diri.
Kubaca nama yang tertera disana, namanya, bukan namamu.
Jadi aku hidup dengannya?

Dia menggendongku, membawaku masuk ke mobil, kudengar beberapa kawan berseru :
“mobil siap, kita ke RS ya ”

AKu bisa merasakan laju mobil dengan aku di pangkuannya, dia yang tak henti menangis, berusaha agar aku terbangun.
Sedih sekali rasanya melihat semua ini. Tak lama, aku melihat pemandangan aneh di luar mobil, kami melewati sebuah taman, dan.. aku lihat diriku disana, berdiri dituntun seorang nenek yang tersenyum.
Aku memakai kebaya putih dan kain motif warna marun. Pakaian yang sama dikenakan oleh nenek tersebut.
Aku berteriak histeris :
“Itu siapa menyerupai aku? ”

Tapi tak ada yang mendengarku. Berusaha kuguncang badannya tak bergeming, berteriak ke temanku yang sedang menyetir pun hasilnya sama.
Akhirnya aku tahu, mereka tak melihatku.
Inikah namanya mati?
Aku tak siap
Aku tak ingin
Aku masih ingin bersamamu….

Where Have You Been?

Sand running through the bulbs of an hourglass measuring the passing time in a countdown to a deadline, on a dark background with copy space.
Pernah bertanya seperti diatas?
Kamu kemana aja?
Pernah menyayangi orang begitu rupa dahulu, kemudian memutuskan pergi darinya karena tidak sesuai harapan.
Tak ada yang salah, karena kita yang berharap banyak.
kalimat diatas saya tanyakan ketika beberapa hari lalu menyanggupi bertemu dengan dia.
Jawabannya?
Aku disini tidak kemana mana, hanya kamu yang tidak bisa kujangkau lagi. Entah kenapa kamu membenci aku begitu rupa, karena sesuatu yang sudah ada padaku sedari lama. 
Hiburanku cuma satu, melihat Whatsapp statusmu, senyummu , walau aku tak tahu kau sedang bergembira dengan siapa. 
Aku tidak seperti dulu mengejarmu, mencarimu ke segala penjuru karena aku tau kamu sedang menghukum aku. 
Ratusan sapaan chat ku tak pernah kau balas, hanya kau baca.
Tapi, centang biru saja sudah membahagiakanku, artinya kau baca. 
Dan, beberapa hari lalu entah keberanian dari mana mencoba menyapamu lagi. 
Aku sudah siap seandainya semua berakhir dengan centang biru, nyatanya kau balas kan dan menyanggupi makan siang ini. 
Jadi, apa kabarmu? 
.
.
.
.
.
Lancar sekali dia bicara dengan intonasi tenangnya, kemudian tertawa melihatku tegang.
Tanpa sepengetahuanku dia sudah memesan Sup Jagung Kepiting, Cap Cay Goreng tanpa jeroan, dan Jeruk Panas.
Semua terhidang beberapa menit setelah dia bicara tadi.
” Aku benar-benar ingin merayakan KITA”.
” Tidak keberatan kan aku sudah pesan semua? ”

aku cuma bisa mengangguk pelan dan tersenyum, ” terimakasih” lirihku.
Kemudian dengan lancar dia mengidentifikasi beberapa perubahan di diriku.
Kacamata baru, aku yang lebih kurusan, style rambut baru , terakhir :
“ehh parfumnya beda ya? yang mana ini? ”

Sungguh aku merasa berdosa mengabaikannya dalam waktu yang lama.
Menit berlalu kebekuan mencair, kami sudah bercanda seperti biasa, bertukar cerita seru karena circle kami saling connect.

Waktu tak bisa ditawar, kami harus kembali ke kantor masing-masing.
” Aku boleh antar kamu tak? ”
” Ehh? kan kantorku di seberang cuma jalan 5 menit, ” kataku.
” Umm, iya tapi boleh ya anter pake mobil, kita muter 1x putaran ya? ” harapnya.
” Ya deh, gapapa, tapi bener ya cuma 1x putaran ”
,… akhirnya dia mengantarku pulang dengan 1x putaran.

” Jangan pernah bertanya aku kemana ya. Aku masih disini koq. ”
” Semoga besok -besok masih bole makan siang bareng ya? ”

Aku tersenyum, dan menganggukkan kepala.
Kemudian sebelum dia menutup pintu, ” Maafkan aku selama ini ya, tak seharusnya aku egois seperti itu. Harusnya aku tau tempatku dimana. ”

#Legian 31 Jan 2019

Takut

Image result for takut

Semua pasti pernah merasakan takut.
Apakah takut itu sebenarnya?
Takut adalah suatu mekanisme pertahanan hidup dasar yang terjadi sebagai respons terhadap suatu stimulus tertentu, seperti rasa sakit atau ancaman bahaya. Beberapa ahli psikologi juga telah menyebutkan bahwa takut adalah salah satu dari emosi dasar, selain kebahagiaan, kesedihan, dan kemarahan.
( sumber : Wikipedia ).
Yang tidak saya sukai dari takut itu efek yang ditimbulkan, seperti cemas ga jelas, keringetan, gemetar sampe pusing.
Ketakutan saya biasanya muncul :
* Klo nonton film horror macam The Nun ( saya nonton di bioskop tadi malam ), bandel sih ya sudah taw takut masih aja maksain nonton.
* Klo lagi naik motor kemudian hujan deres yang jatuhnya gede-gede, saya takuut banget, karena saya puya sesak nafas, dingin dan air hujan sering bikin saya ketakutan , takut sesak nya kumat.
* Klo pasangan saya lagi marah, nah ini.. takuuut banget, bisa keringetan, kemudian pusing berat.
* KLo saya ada di kondisi dimana saya tidak bisa berbuat apa-apa. Atau di kondisi yang saya tidak tau sama sekali.
Sama seperti beberapa hari ini, ketakutan saya berlipat-lipat, pun saya sudah taw bukankah ketakutan itu hanya ada di pikiran? Tidak nyata adanya.
Yang bikin takut kan pengandaiannya, nanti klo gini klo gitu,, semuanya klo…
Saya harus bertemu 3 dokter dalam waktu dekat untuk memeriksakan diri, dari dulu paling ga suka namanya ke dokter, asal sudah liat ruangan putih, bau karbol antiseptik khas rumah sakit ataw ruang praktek dokter sudah cukup bikin rasanya jantung berhenti berdetak.
Dokter spesialis penyakit dalam yang saya temui semalam sudah berpesan, :
Ikuti alur pemeriksaannya ya, don’t too much Googling, kondisi tiap orang berbeda, belum lagi baca istilah medikal yang ga dipahami , cukup bikin stress. Jangan takut.

Saya cuma manggut-manggut saja, tapi ya tetep,… TAKUT. Hahaha…
Takut itu ga boleh dibiarkan, harus diatasi. Supaya bisa move on ehh…
Cara saya mengatasi takut?
Saya biasanya meditasi sejam sebelum tidur malam, ataw klo pas lagi takut banget, saya tarik nafas hembuskan sampe 3x round, bahasa sononya >> take deep breath.
Kemudian minum air putih sebanyak saya rasa cukup untuk ngilangin rasa takut.
Yang ini biasanya jurus pamungkas, ketika suatu kondisi harus saya hadapi :
Pejamkan mata sebentar, tarik nafas, hembuskan dan bilang : saya berani!!

Oh ya, saya nulis tentang takut ini karena sejujurnya saya takut besok pagi harus ketemu dokter radiologi, semoga esok tidak seperti yang saya bayangkan.
Klo kamu, gimana cara mengatasi ketakutanmu?
Boleh di share kog disini…